Deretan kata yang berjejer, bertumpuk rapi laiknya semut yang beriringan. Mempesona ketika di baca. Adalah kata yang merubah segalanya. laiknya khairil Anwar "aku ingin hidup se-ribu tahun lagi, tak perduli sakit, luka ini akan ku bawa berlari. Sampai tak terasa sakit itu apa". Alama, Anwar serakah betul yah, karena tak ada orang jaman sekarang yang hidup sampai selama itu. Sejauh ini, benar apa yang bang pram bilang puluhan tahun silam. "Menulis adalah usaha menuju keabadaian" begitu dia bilang, sepintar apapun manusia, jika dia tidak menulis maka dia akan tenggelan oleh jaman dan masyarakatnya tak akan ada yang tau.
Lisle, -tokoh cantik dalam film tragedi jerman- sangat berterima kasih kepada Max yang telah membuka mata nya. Lisle adalah gadis panti yang di adopsi oleh keluarga Hederburg, gara gara orang tuanya adalah seorang Komunis dan Max adalah seorang Yahudi. Keduanya adalah golongan terlarang hidup di tengah tengah bangsa Aria, tanah Jerman Raya. Lisle kecil -tapi tetap cantik- yang sama sama sekali buta huruf dan tak mengenal banyak kata, mulai belajar menghafal kata dan merangkainya untuk kemudian di ceritakan kepada Max yang waktu itu tak bisa keluar rumah karena Hitler sedang giat membasmi umat Yahudi, laiknya hama padi. Tugas lisle kecil adalah menceritakan suasana di luar, apa yang di lihatnya seharian. Lisle yang cantik alang kepalang menuturkan apa yang di rekam kedua bola matanya yang indah itu. Di akhir percakapannya lisle bilang "aku ingin melihat dunia". Max Yahudi, yang begitu bencinya dengan Hitler, merubah buku hitler menjadi kertas putih tak bergambar.
Adalah untuk Lisle yang manis buku itu Max berikan. "Dunia ini sangat luas, ceritakan padaku apa yang kau rekam setiap hari lewat kata katamu" kata kata Max sebelum pergi dari rumah karena Jerman sudah sangat membabi buta membasmi Yahudi.
Lisle manis, yang indah matanya bersinar, sangat senang sekali dengan buku. Ia kerap meminjam -meski tak bilang- buku dari pejabat setempat.
Kata yang tersusun rapih itu sangat sekali indah. "Aku ingin melihat dunia dengan membaca, aku ingin bercerita -dalam tulisan- agar dunia kelak melihatku" saut Lisle.
Aku ingin bercerita lewat kata, menulis kisah, melanjutkan hidup yang sayang bila tak ku tuliskan apa yang terjadi selama kau tak di sampingku. Menulis itu seperti makan, kita harus makan, manusia harus makan untuk kelangsungan hidupnya. Begitu juga menulis. Di pojok ruang yang sesak dengan lamunan, aku mulai bercerita. Tentang kisah ku, kisah dia yang manis, atau tentang mereka yang kadang menyebalkan. Menuturkan kata kata yang bisa mewakili komentar ku tentang masyarakat di satu tempat. Tentang lingkungan ku yang kian berubah. Perubahan itu perlu, karena sebtulnya yang berubah itu adalah perubahan itu sendiri. Aku berpikir maka aku ada, kata filsup yang aku lupa namanya. Aku menulis maka aku ada. Begitu kira kira:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar