Sabtu, 19 November 2016

RIMASI Siap Bina Kader Ummat dan Kader Bangsa




Pengurus Riungan Mahasiswa Sukabumi (RIMASI-JAKARTA)  menggelar Masa Taaruf Keluarga Baru (MASTAKA) 2016 bertajuk “Membangun kader yang Bersinergi dalam Arah Juang Rimasi untuk Sukabumi”.
Acara  itu digelar di lingkungan Villa Yawitra, Kadudampit Kabupaten Sukabumi, Jumat-Sabtu (11-13/11/2016).

Ketua RIMASI Jakarta Yuzi Azmi firdaus mengatakan, kegiatan ini digelar untuk mengasah kemampuan dan membekali mahasiswa dengan ilmu agar bisa menerapkannya kelak di masyarakat khususnya di Sukabumi.
“Kegiatan ini untuk memberikan pemahaman yang maksimal. Kami optimistis mahasiswa Sukabumi tidak ragu lagi untuk terjun tampil di masyarakat,” kata mahasiswa FIDKOM Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia berharap peserta pelatihan dapat menyerap materi yang telah di berikan untuk terus di kembangkan dan juga dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Mereka juga diharapkan menjadi pemimpin yang loyal.

Ketua Panitia acara MASTAKA, Muhammad Rifadlo mengatakan antusiasme mahasiswa dalam mengikuti kegiatan tersebut sangat tinggi. “Saya sangat senang meyaksikan peserta pelatihan sangat antusias meski acara kali ini kami setting sangat padat, tetapi tetap tetap dalam nuansa kekeluargaan”

Pihaknya yang bekerjasama dengan Master Of Tarining (MOT) berkomitmen menyajikan materi dan pemateri yang kompeten dibidangnya. “Ada enam materi yang sudah kami siapkan selaku pengelola latihan dan tentu saja kami juga berupaya menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya” tutur Dendi Budiman, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Uiversitas Islam Negri Syarief Hiayatullah, Jakarta itu.

Diantara materi yang di sajikan adalah, Sejarah Organisasi oleh Dikdik Ali Akbar S.E, Sejarah Sukabumi oleh Irman Firmansyah S.Sos, M.M, Menegemen Organisasi dan Kepemimpinan oleh Narlan Suhendar S.Pd, Penguatan Berorganisasi oleh Indra Bagea S.Pd, Gerakan Sosial oleh Dendi Budiman, Konstitusi dan Teknik Persidangan oleh Zaini Abdillah.

Sementara itu peserta pelatihan, Restu Rahayu mengaku kegiatan ini sangat luar biasa, tidak hanya menambah kawan baru tetapi juga menambah pengetahuan selain materi kuliah. “Saya dan teman-teman merasa senang ikut tergabung di RIMASI Jakarta” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negri Syarief Hidayatulah Jakarta itu.
(*DB)

Kamis, 21 April 2016

isu lingkungan

Hamparan laut biru yang luas, dataran, bukit-bukit, pegunungan, langit yang biru yang disinari matahari, semuanya merupakan lingkungan alam. Lingkungan hidup mencakup lingkungan alam yang meliputi lingkungan fisik, biologi, dan budaya.
Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 4 tahun 1982 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Lingkungan Hidup No. 23 tahun 1997 pasal 1 menyebut pengertian lingkungan hidup sebagai berikut.
“Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.”
Lingkungan hidup sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang tersebut merupakan suatu sistem yang meliputi lingkungan alam hayati, lingkungan alam nonhayati, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. Semua komponen-komponen lingkungan hidup seperti benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen itu disebut ruang.
Pada ruang ini berlangsung ekosistem, yaitu suatu susunan organisme hidup dimana diantara lingkungan abiotik dan organisme tersebut terjalin interaksi yang harmonis dan stabil, saling memberi dan menerima kehidupan.
Interaksi antara berbagai komponen tersebut ada kalanya bersifat positif dan tidak jarang pula yang bersifat negatif. Keadaan yang bersifat positif dapat terjadi apabila terjadi keadaan yang mendorong dan membantu kelancaran berlangsungnya proses kehidupan lingkungan.
Cara mengambil hasil hutan agar tetap terjaga kelesteriannya misalnya dengan sistem tebang pilih yaitu pohon yang ditebang hanya pohon yang besar dan tua, agar pohon-pohon kecil yang sebelumnya terlindungi oleh pohon besar, akan cepat menjadi besar menggantikan pohon yang ditebang tersebut.
Interaksi yang bersifat negatif terjadi apabila proses interaksi lingkungan yang harmonis terganggu sehingga interaksi berjalan saling merugikan.
Adanya gangguan terhadap satu komponen di dalam lingkungan hidup, akan membawa pengaruh yang negatif bagi komponen-komponen lainnya karena keseimbangan terhadap komponen-komponen tersebut tidak harmonis lagi.
B.     Arti Penting Lingkungan Hidup Bagi Kehidupan
Bumi ini diwariskan dari nenek moyang kita dalam keadaan yang sangat berkualitas dan seimbang. Nenek moyang kita telah menjaga dan memeliharanya bagi kita sebagai pewaris bumi selanjutnya, sehingga kita berhak dan harus mendapatkan kualitas yang sama persis dengan apa yang didapatkan nenek moyang kita sebelumnya. Bumi adalah anugerah yang tidak ternilai harganya dari Tuhan Yang Maha Esa karena menjadi sumber segala kehidupan. Oleh karena itu, menjaga alam dan keseimbangannya menjadi kewajiban kita semua secara mutlak tanpa syarat.
Masyarakat jaman dahulu telah menyadari benar bahwa lingkungan hidup merupakan bagian kehidupannya. Dari catatan sejarah diketahui bahwa pada abad ke-7, masyarakat di Indonesia sudah membentuk suatu bagian yang bertugas mengawasi hutan, yang hampir sama fungsinya dengan jabatan sekarang yang disebut dengan Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA). Masyarakat seperti ini sering kita sebut masyarakat tradisional.
Kawasan hutan mereka bagi menjadi beberapa bagian, ada yang boleh digarap yang disebut hutan rakyat, ada pula yang boleh diambil hasil hutannya dengan syarat harus terlebih dahulu menggantinya. Kawasan hutan ini sering disebut hutan masyarakat yang berfungsi sebagai hutan produksi. Akan tetapi, ada pula hutan yang tidak boleh digarap sama sekali. Hutan yang tidak boleh digarap ini merupakan hutan adat. Kawasan hutan adat ini sangat tertutup, dan masyarakatnya percaya bahwa hutan inilah yang menjaga wilayah mereka dari segala bencana alam.
Pada hutan masyarakat, pohon boleh ditebang untuk keperluan masyarakat, akan tetapi sebelum ditebang harus menanam terlebih dahulu pohon yang sama jenisnya di samping pohon yang akan ditebang sehingga mereka tetap mewariskan lingkungan alam yang sama terhadap anak cucunya. Hal ini menunjukkan betapa baiknya mereka menjaga lingkungan untuk diteruskan kepada generasi yang akan datang.
Perkembangan jumlah penduduk yang cepat serta perkembangan teknologi yang makin maju, telah mengubah pola hidup manusia. Bila sebelumnya kebutuhan manusia hanya terbatas pada kebutuhan primer dan sekunder, kini kebutuhan manusia telah meningkat kepada kebutuhan tersier yang tidak terbatas. Kebutuhan manusia tidak hanya sekedar kebutuhan primer untuk dapat melangsungkan kehidupan seperti makan dan minum, pakaian, rumah, dan kebutuhan sekunder seperti kebutuhan terhadap pendidikan, kesehatan, akan tetapi telah meningkat menjadi kebutuhan tersier yang memungkinkan seseorang untuk memilih kebutuhan yang tersedia. Kebutuhan tersier telah menyebabkan perubahan yang besar terhadap pola hidup manusia menjadi konsumtif.
Bagi yang mampu, semua kebutuhan dapat dipenuhi sekaligus, dan bagi yang memiliki kemampuan terbatas harus memilih sesuai kemampuannya. Akan tetapi, semua orang yang telah tersentuh oleh kemajuan jaman akan berusaha mendapatkannya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak sekedar terpenuhi akan tetapi selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan.
C.    Bentuk-bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup dan Faktor Penyebabnya
Meningkatnya jumlah penduduk serta kebutuhan tersier yang semakin banyak sebagai akibat perkembangan teknologi yang pesat, telah menyebabkan tekanan terhadap sumber daya alam dan lingkungan semakin berat. Jumlah penduduk dunia yang sekarang telah lebih dari 6 miliar jiwa, tidak hanya memerlukan kebutuhan primer dan sekunder, akan tetapi juga memerlukan kebutuhan tersier dalam jumlah besar. Pertumbuhan penduduk dalam jumlah besar, telah banyak mengubah lahan hutan menjadi lahan permukiman, pertanian, industri, dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan luas lahan hutan terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun, terutama di negara-negara miskin dan negara berkembang. Demikian pula kebutuhan tersier yang terus mengalami peningkatan, baik dalam jumlah maupun kualitasnya, menyebabkan industri-industri berkembang dengan pesat. Perkembangan industri yang pesat, membutuhkan sumber daya alam berupa bahan baku dan sumber energi yang sangat besar pula. Sebagai akibatnya, sumber-sumber bahan baku dan energi terus dikuras dalam jumlah besar. Cadangan sumber daya alam di alam semakin merosot, hutan-hutan semakin rusak karena banyaknya pohon yang diambil untuk kebutuhan bahan baku industri, apalagi bila tidak diimbangi dengan usaha reboisasi akan menimbulkan bencana pencemaran terhadap udara, air, dan tanah, yang akhirnya menganggu kehidupan manusia.
Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia tahun 1972 di Stockholm (Swedia), telah mengangkat masalah lingkungan hidup tidak hanya menyangkut masalah suatu negara akan tetapi merupakan masalah dunia. Konferensi yang diadakan pada tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm, diikuti oleh 113 negara dan puluhan peninjau, merupakan pertemuan besar dan sangat penting bagi masa depan lingkungan hidup manusia. Dari salah satu hasil konferensi Stockholm itu, dibentuklah satu badan PBB yang menangani masalah-masalah lingkungan yang disebut “United Nations Environment Programme” atau UNEF. Konferensi juga menetapkan tanggal 5 Juni sebagai “Hari Lingkungan Hidup Sedunia”.
Pencemaran lingkungan yang terjadi di suatu negara, akan berdampak pula pada negara lain bahkan dunia. Untuk itu selalu diperlukan kerja sama yang baik antara negara-negara di dunia untuk menangani masalah lingkungan. Kerusakan hutan di Indonesia tidak hanya berpengaruh terhadap keadaan iklim di Indonesia, akan tetapi berakibat pula terhadap perubahan iklim global (dunia secara menyeluruh).
Peningkatan karbon dioksida (CO2) di udara menyebabkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah alih bahasa dari Greenhouse effect. Greenhouse adalah rumah atau bangunan yang atap dan dindingnya terbuat dari kaca, hanya rangkanya terbuat dari besi atau kayu. Rumah ini bukan untuk tempat tinggal tetapi digunakan oleh petani di daerah dingin atau subtropik untuk bercocok tanam. Walaupun suhu di luar sangat dingin pada musim gugur dan musim dingin, tetapi di dalam rumah kaca udaranya tetap hangat sehingga tanaman di dalamnya tetap hijau. Suhu udara yang hangat di dalam rumah kaca walaupun pada musim gugur dan musim dingin dapat dijelaskan sebagai berikut.
Radiasi sinar matahari pada siang hari menembus kaca masuk ke dalam rumah kaca. Radiasi sinar matahari yang diterima benda dan permukaan rumah kaca dipantulkan kembali berupa sinar infra merah. Tetapi pantulan tersebut tertahan oleh dinding dan atap kaca sehingga panas yang dapat keluar dari rumah kaca itu hanya sebagian kecil sedangkan sebagian besar terkurung di dalam rumah kaca. Akibatnya udara di dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun di luar udaranya sangat dingin.
Di permukaan bumi yang berfungsi sebagai atap kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer. Atmosfer bumi mengandung berbagai macam gas dan partikel-partikel berupa benda-benda padat seperti debu. Di antara berbagai gas di udara, yang berfungsi sebagai gas rumah kaca antara lain karbon dioksida (CO2), metana (CH4), gas nitrogen, ozon (O3), Klorofluorokarbon (CFC), dan lain-lain. Di antara gas-gas tersebut yang paling dominan berfungsi sebagai rumah kaca adalah karbon dioksida (CO2) yang disebut pula dengan gas rumah kaca.
Perkembangan industri yang begitu pesat, telah mengganggu keseimbangan gas karbon dioksida di udara. Pembakaran minyak tanah, bensin, solar, batu bara, untuk menggerakkan pabrik-pabrik. Demikian pula kendaraan bermotor yang menggunakan bensin atau solar sebagai bahan bakar, pembakaran lahan dan kebakaran hutan, dan tain-lain, telah menambah jumlah karbon dioksida di udara.
Gas rumah kaca sebenarnya sangat diperlukan dalam mengatur suhu di permukaan bumi, yaitu menyerap dan memantulkan kembali sinar matahari. Bila gas ini tidak ada di udara beserta dengan gas-gas lainnya yang berfungsi sebagai gas rumah kaca maka sinar matahari yang diterima bumi akan di pantulkan semuanya ke ruang angkasa sehingga pada malam hari suhu di permukaan bumi sangat dingin, dan pada siang hari sangat panas sekali seperti di bulan sehingga tidak dapat dijadikan tempat tinggal.
Masalah gas rumah kaca muncul karena kegiatan manusia semakin banyak menghasilkan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida. Menurut hasil penelitian para ahli, semakin banyak gas karbon dioksida dilepaskan ke udara dari hasil kegiatan manusia, akan semakin mempercepat kenaikan suhu di permukaan bumi. Kenaikan suhu di permukaan bumi akan mempengaruhi iklim di bumi, dan akan berdampak negatif pada kehidupan di muka bumi.
Suhu global (secara keseluruhan) rata-rata meningkat 0,6 °C. Hal ini berpengaruh pula terhadap iklim global yaitu iklim di seluruh permukaan bumi.
Kenaikan suhu di permukaan bumi menyebabkan lapisan es yang berada di kutub banyak yang mencair, dan pada akhirnya dapat menenggelamkan kawasan-kawasan yang rendah seperti dataran-dataran pantai, dan pulau-pulau yang rendah.
Peningkatan gas karbon dioksida yang terus berlangsung, dan tanpa ada tindakan manusia untuk menguranginya, diramalkan 100 tahun yang akan datang suhu bumi akan naik antara 3°-4°C. Kenaikan suhu sebesar ini akan menyebabkan perubahan iklim yang cukup berarti, dan akan disertai pula dengan berbagai bencana alam seperti angin badai, naiknya permukaan laut, mencairnya es di puncak-puncak gunung dan es di kutub, punahnya flora dan fauna yang tidak tahan terhadap perubahan, dan sebagainya.
Permasalahan pemanasan global seperti diuraikan di atas, tentunya sangat mengkhawatirkan dunia Internasional. Untuk membicarakan hal ini, diadakan “Konvensi Perubahan Iklim” (United Nations Frame Work Convention on Climate Change) di Kota Kyoto (Jepang) pada tahun 1997 yang dihadiri oleh 170 negara untuk membahas pembatasan-pembatasan gas-gas penyebab efek rumah kaca. Pada sidang tersebut, para ilmuwan PBB melaporkan bahwa pemanasan global akan meningkatkan penyakit, mengakibatkan kegagalan panen, dan meningginya permukaan laut.

Kamis, 08 Oktober 2015

Menggagas Arah Baru RIMASI Jakarta



Menggagas Arah Baru RIMASI[1]
Oleh: Dendi Budiman[2]



Bismillahirahmanirrahim....
Mengawali pidato ini, saya mengajak hadirin sekalian, untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan karuniaNya , kita masih di beri kesempatan, kekuatan dan insyaAllah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur , pada hari yang istimewa ini, kita dapat menghadiri rapat kerja pengurus Riungan Mhahasiswa Sukabumi.

Saudara-saudara pengurus yang saya hormati. 

Dalam agenda rapat kerja kali ini ada beberapa hal yang harus menjadi catatan sodara dalam membuat agenda kerja. Di harapkan dalam menyusun program kerja ini mengacu pada big speak yang akan saya sampaikan ini.

Saudara-saudara pengurus yang saya hormati

Sebagai ketua, saya berkewajiban untuk membuat gambaran, arah serta visi, organisasi ini dalam satu periode kedepan atau setidaknya dalam istilah kita mengarahkan oragnisasi sebaai upaya membawa organisasi pada puncak kejayaan. Apa saja yang ingin kita sama-sama capai dalam periode ini, Kemudian kita perjuangkan bersama-sama.

Saudara pengurus yang saya bangakan

Dalam membuat arah atau wacana besar ini, tentu tidak serta merta memunculkan ide dan gagasan seperti halnya timbul dari ruang yang kosong. Wacana besar yang akan saya kemukakan di depan adalah hasil perenngan pribadi dan tentu hasil konsultasi dengan beberapa pihak yang tak mungkin saya sebutkan satu-persatu. Selain itu, secara organisasi sayapun sadar betul tetang amanah konstitusi kita, maka dari itu saya pun tidak mengabaikan konstitusi organisasi maka dari pada itu wacana besar inipun bersumber dari tafsiran konstitusi organisasi.

Saudara-saudara pengurus yang berbahagia

Rimasi sebagai organanisasi yang sifat dan bentuknya berbasis kedaerahan, kekeluargaan yang tujuannya utamanya adalah mewadahi putra/i daerah yang berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Selanjutnya tujuan ini pun di realisasikan dengan agenda-agenda organisasi yang kita istilahkan proses perkaderan. Proses dimana seorang mahasiswa yang berasal dari daerah yamg sama di bina secara terstruktur dan masif dalam bingkai kekluargaan.
Rimasi Jakarta, Sejak di dirikannya terjadi banyak perubahan. perubahan itu tentu agar supaya organisasi ini bisa survive di tengah derasnya gelombang hedonisme dan isme-isme lain.

Saudara pengurus yang saya hormati

 Sekurang-kurangnya ada 4 hal yang ingin saya 
tawarkan kepada saudara sebagai upaya membuat arah organisasi dalam periode ini.4 poin yang harus kita sama sama goolkan ini tidak lain dan tidak bukan adalah bertujuan untuk membuat RIMASI memiliki brand yang di segani dan di perhitngkan oleh masyarakat kampus dan masyrakat sukabumi. Saya berfikir bahwa untuk periode ini meningkatkan brand ini sangat penting. Sebeb RIMASI pada fase ini tak lagi berada pada fase perintisan yang fokus pada membangun organisasi supaya tegak. Tetapi RIMASI sudah berada pada fase konsolidasi. fase di mana perkaderan bukan menjadi poin utama dalam menyusun agenda kerja. Perkaderan penting karena RIMASI organisasi kader bukan oragnisasi masa, akan tetapi pada masa ini RIMASI sudah saatnya mengepakkan sayap, melangit dan mengangkasa. Artinya RIMASI sudah saatnya memiliki brand yang pantas di perhitungkan dan memiliki nama besar di masyarakat, baik itu masyarakat kampus yang notabene mahasiswa dan masyarakat luas pada umumnya.

Saudara pengurus yang saya banggakan

Untuk menggapai ha tersebut perlu adanya arah yang jelas. Ada banyak hal yang ingin saya capai untu RIMASI pada periode ini,namun sadar akan keterbatasan maka perlu adanya batasan yang jelas agar supaya kita sebgai pengurus paham apa saja yang akan kita capai dalam satu periode ini.
4 hal yang saya sebutkan di muka adalah pertama untuk mewujudkan poin sentral tadi RIMASI memiliki brand yang di perhitungkan, adalah RIMASI harus menyentuh ke ranah sosial kemasyarakatan. Sebagai organisasi mahasiswa kedaerahaan yang sifatnya berbasis kekeluargaan RIMASI wajib mendorong anggotanya agar supaya peka terhadap isu isu sosial kemasyarakatan khususnya isu yang berkembang di sukabumi. Maka dari itu pola perkaderan yang nanti akan di jalankan pun harus mengacu pada ini. Bagaimana mengkader anggota RIMASI supaya peka terhadap isu-isu sosial lalu kita wujudkan dalam bentuk aksi kita untuk merespon isu tersebut. Sejauh ini RIMASI cukup brhasil dalam hal sosial kemasyarakatan, salah satu agendanya adalah baksos peduli longsor Cirenghas. Kegiatan ini sebetulya bukan hanya masalah sosial saja akan tetapi multi dimensi. Artinya insiden ini bukan hanya menjadi isu sosial belaka tetapi secara otomatis menjadi isu lingkungan juga.

yang kedua adalah lingkungan. Rimasi memang bukan organisai pegiat lingkungan, akan tetapi jika kita berbicara daerah karena RIMASI adalah organisasi kedaerahan maka menjadi multi tafsir. Salah satunya adalah lingungan, maka berlandaskan asas konstitusi, RIMASI perlu menyentuh isu-isu lingkungan. Maksudnya adalah RIMASI sebagai oaganisasasi kedaerahan berkewajiban untuk mengarahkan kadernya supaya paham dan peduli terhadap apa yang terjadi di daerah asalnya. Bagaimana kondisi lingkungan, apa yang terjadi pada lingunganya. Jangan sampai mereka yang berasal dari daerah tak tahu daerahnya. Lingkungan ini menjadi isu  yang menarik, pertama isu ini bisa di bawa ke ranah parawisata yang pada nantinya membantu geliat perekonomian masyrakat setempat atau juga bisa di bawa ke ranah politik. Artinya sejauh mana pemerintah pro terhadap lingkungan dalam hal pengambila kebijakan.

Yang ketiga, yang tidak kalah penting juga adalah politik. Yang di maksud politik di sini adalah bagaimana RIMASI sebagai organisasi daerah bisa mengarahkan anggotanya untuk tidak apolitik atau dalam istilah kita buta politik. Sebagai mahasiswa harusnya melek politik. Mahasiswa harus betul-betul menjadi agent of change  Maka dari itu RIMASI harus mengupayakan hal itu. Tapi jangan di artikan RIMASI ikut berpolitik, tidak. Justru RIMASI harus betul-betul menjadi coontrol pemerntah, sejauh mana kebijakan yang di keluarkan pemerintah selaras dengan apa yang di harapkan oleh masyarakat. Saya pikir jika kita berbicara ketiga elemen tadi yaitu Sosial, Lingkungan dan Politik, maka ini menjadi satu kesatuan yang tak bisa di pisahkan. Bayangkan jika kita meniliti isu sosial maka itu akan bersangkutan dengan isu lingkungan begitu juga isu politik. Semisal contoh kasus daerah Cicurug, daerah yang di mana industrilasisai paling tinggi di Sukabumi. Apa saja yang terjadi di kawasan industri ini, ada puluhan perusahaan multi nasional yang menancapkan taringnya di daerah tersebut. Apa dampak sosial yang terjadi di sana, pertama adalah kondisi sosial masyaraktanya menjadi kurang peduli terhadap pendidikan. Maka tak aneh jika banyak putra daerah yang tak melanjutkan pendidikannya karena tergiur oleh gaji yang di tawarkan perusahaan. Efek sosialnya pertama itu, kedua efek sosial yang lain juga adalah banyaknya kaum ibu menjadi buruh sedangkan kaum bpa menggantikan posisi ibu di rumah, bisa di bayangkan bagaimana jadinya anak yang tumbuh besar dalam ketimpangan sosial semacam itu. Isu yang kedua sudah pasti berefek pada lingkungan, bayangkan ada puluhan perusahaan air minum yang tidak memerhatikan AMDAL (analisa Managament dan Lingkungan) efeknya sudah pasti kerusakan alam, jalanan rusak parah, serta kemaceta tentunya. Hal ini pun sudah pasti berpangkal pada ranah politik Karena tak mungkin penanam saham mendirikan perusahan jika tak mengantongi ijin dari pemda. Maka kita sebgai putra daerah minimal bisa memahami dan sebisa mungkin menanggulangi ketimpangan yang terjadi di daerah kita. Seperti yang kita selogankan “pulang kampung bangun desa”

RANCANGAN TATA TERTIB RAPAT KERJA
RIUNGAN MAHASISWA SUKABUMI (RIMASI) JAKARTA
2015

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal I
Landasan Konstitusional
1.      Anggaran Dasar (AD)
2.      Anggaran Rumah Tangga (ART)
Pasal 2
1.      RAPAT KERJA adalah forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi RIMASI
2.      RAPAT KERJA diadakan satu kali dalam satu periode
BAB II
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT
Pasal 3
Sidang ini bernama rapat kerja Riungan Mahasiswa Sukabumi ini dilaksanakan di sukabumi pada tanggal 31 januari 2015
BAB III
KEPESERTAAN
Pasal 4
1.      Peserta sidang terdiri dari : Peserta utusan dan peserta peninjau
2.      Peserta utusan terdiri dari : Pengurus RIMASI JAkarta
3.      Peserta Peninjau terdiri dari : Anggota RIMASI
Pasal 5
1.      Hak bicara ada untuk menyampaikan pendapat
2.      Hak bicara ada pada setiap peserta utusan dan peserta peninjau
3.      Hak bicara peserta peninjau diberikan atas prmintaan dan persetujuan pimpinan sidang
Pasal 6
1.      Hak suara adalah hak mengusulkan pendapat
2.      Hak suara hanya dimiliki oleh peserta utusan
3.      Setiap peserta utusan yang hadir memiliki hak suara
BAB IV
FUNGSI DAN WEWENANG
Pasal 7
1.      Menyusun rancangan agenda kerja dalam satu periode kedepan

BAB V
KEWAJIBAN PESERTA
Pasal 8
1.      Setiap peserta wajib mentaati Tata Tertib Mubes yang telah disepakati
2.      Setiap peserta wajib menjaga ketertiban dan kelancaran sidang
3.      Setiap peserta berhak mengajukan haknya dengan seijin pimpinan sidang atau presidium sidang
4.      Setiap peserta wajib meminta ijin pimpinan sidang jika keluar persidangan
5.      Peserta sidang diperkenankan merokok,membuat forum sendiri selama proses persidangan
BAB VI
                                                      PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pasal 9
1.      RAKER dinyatakan sah apabila dihadiri oleh setengah lebih dari satu jumlah Pengurus RIMASI
2.      Apabila point satu tidak terpenuhi maka sidang ditunda selama 1x15 menit,dan selanjutnya sidang dinyatakan qorum
BAB VII
PERSIDANGAN
Pasal 10
1.      Persidangan terdiri dari sidang paripurna dan sidang komisi
2.      Hasil-hasil sidang komisi di sahkan dalam sidang paripurna RAPAT KERJA
Pasal 11

BAB VII
PIMPINAN PERSIDANGAN
Pasal 12
1.      Sidang sidang RAKER RIMASI di pimpin oleh satu badan yang di sebut presidium persidangan.
2.      Sebelum presidium persidangan terpilih , sidang di pimpin oleh stering comite (sc)
3.      Sidang komisi di pimpin oleh ketua komisi.

BAB VIII
PEMILIHAN PRESIDIUM SIDANG
Pasal 13
1.      Presidium sidang di pilih oleh peserta sidang
2.      Setiappeserta sidang berhak mengajukan 3 calon
3.      3 calon yang mendapat suara terbanyak dinyatakan sah sebagai presidium sidang.
4.      Apabila terjadi perimbangan suara terbanyak ketiga maka diadakan pemilihan ulang
5.      Apabila poin ke empat tidak tercapaiu maka di adakan voting.
BAB IX
KEPUTUSAN-KEPUTUSAN
Pasal 14
1.      Keputusan diambil dengan jalan musyawarah untuk mufakat
2.      Bila poin pertama tidak tercapai maka di adakan lobiying
3.      Bila poin pertama dan kedua tidak tercapai maka di adakan voting.
BAB X
LAIN-LAIN
Pasal 15
Hal hal lain akan diatur presidium sidang selam tidak bertentangan dengan AD/ART RIMASI dengan disepakati peserta sidang.























PROGRAM KERJA RIUNGAN MAHASISWA SUKABUMI JAKARTA

1.      BIDANG PENGEMBANGAN ANGGOTA
Ø  Mengadakan Masa Taaruf Kulawargi Anyar (MASTAKA)\
Ø  Mengadakan Inagurasi
Ø  Penyusunan Data Base
Ø  Membuat Pedoman Perkaderan
Ø  Mengadakan Pembekalan pada Setiap Kegiatan untuk Panitia
Ø  Membuat LPJ Pada Setiap Setelah Kegiatan

2.      BIDANG KOMINFO
Ø  Membuat dan Mengoptimalkan websait dan media sosial
Ø  Membuat news latter
Ø  Kenjungan ke media nasional maupun lokal
Ø  Mengadakan pelatihan jurnalistk

3.      BIDANG KEILMUAN
Ø  Mengadakan diskusi rutin
Ø  Mengadakan nonton bareeng (movie discus)
Ø  Mengadakan stadium generak, seminar

4.      BIDANG SENI DAN OLAH RAGA
Ø  Mengadakan fun futsal, badminton
Ø  Mengadakan jantung sehat/ lari pagi bareng
Ø  Mengadakan RIMASI CUP
Ø  Mengadakn latihan seni kedaerahan dan kemoderenan


[1] Di sampaikan pada rapat kerja RIMASI Jakarta 2015 pada hari rabu 7 oktober 2015 bertempat di Aula Pasco Ikatan Mahasiswa Muahamadiyah Cabang Ciputat
[2] Peminat pemikiran Tan Malaka